Always support to go green ...^^

Always support to go green ...^^
Always support to go green ...^^

Sabtu, 13 Maret 2010

Pengelolaan Limbah Cair untuk Pengendalian Pencemaran Air

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR UNTUK
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

A. Pengertian Pencemaran Air
Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahkluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Pencemaran air disebabkan oleh banyak faktor, namun secara umum sumber-sumber pencemaran air dapat dikelompokan ke dalam dua kategori yaitu sumber langsung dan sumber tidak langsung. Sumber-sumber langsung adalah buangan (effluent) yang berasal dari sumber pencemarnya yaitu limbah hasil pabrik atau suatu kegiatan dan limbah domestik berupa buangan tinja dan buangan air bekas cucian, serta sampah.
Pencemaran terjadi karena buangan ini langsung di buang ke dalam badan air, seperti sungai, kanal, parit/selokan (Gambar 2-1).Sedangkan sumber-sumber tak langsung adalah kontaminan yang masuk melalui air tanah akibat adanya pencemaran pada air permukaan baik dari limbah industri maupun dari limbah domestik.Mengingat bahwa air adalah komponen dari lingkungan hidup, maka pencemaran air merupakan bagian dari pencemaran lingkungan hidup.
Pencemaran air diatur secara hukum karena air merupakan milik umum yang penguasaannya dimandatkan kepada Pemerintah. Pencemaran air perlu dikendalikan karena akibat pencemaran air dapat mengurangi pemanfaatan air sebagai modal dasar dan faktor
utama pembangunan.
Selama pengotoran air belum melampaui kemampuan pembersihan kembali lingkungan air, maka air tidak akan tercemar. Hal ini terbukti pada saat suatu daerah masih belum banyak penduduknya ataupun belum banyak kegiatannya, seperti keadaan di pulau terpencil, maka air permukaan seperti air sungai itu sangat jernih. Sebaliknya di perkotaan yang besar, hampir semua air sungai sudah keruh ataupun menghitam, sudah tidak ditemukan kehidupan air, dll. Istilah pencemaran air itu terbentuk akibat adanya cairan bekas pakai yang dialirkan kembali begitu saja ke perairan terbuka, dan menimbulkan berbagai dampak yang merugikan masyarakat ataupun lingkungan.

B. Proses pembersihan diri dalam air sungai
Apabila kualitas air sungai telah kembali ke kondisi semula yaitu sebelum terjadinya pencemaran air, maka dikatakan bahwa sungai telah melakukan proses pembersihan diri. Proses pembersihan /pemulihan diri air sungai adalah proses penguraian bahan organik,
maupun kontaminan lainnya yang ada di dalamnya secara alamiah melalui proses fisik, kimia dan biologis. Di dalam pemulihan diri ada beberapa proses yang terjadi, yaitu proses pengenceran, proses pengendapan, proses penyaringan, proses kimiawi dan proses biokimia. Proses pengenceran adalah proses terjadinya pengurangan kadar kontaminan dalam air karena adanya penambahan jumlah air di dalamnya. Proses pengendapan adalah mengendapnya partikel padatan yang ada dalam air sungai karena gaya gravitasi bumi. Mengendapnya partikel padatan ini akan mengurangi jumlah kadar kontaminan dalam air. Air yang meresap ke dalam tanah, akan berkurang kadar kontaminannya karena terjadi proses penyaringan oleh media tanah. Proses kimia yang terjadi biasanya disebabkan karena adanya reaksi oksidasi reduksi dari senyawa kimia yang ada dalam sungai. Reaksi ini meghasilkan senyawa kimia yang stabil dan tidak membahayakan lingkungan. Sebagai contoh amonia yang ada dalam air sungai akan bereaksi dengan oksigen membentuk senyawa nitrit dan nitrat yang lebih stabil. Amonia berasal dari urin manusia. Akibat pemanfaatan oksigen terlarut dalam air, maka terjadi penurunan kadar oksigen terlarut tsb. Pada proses penguraian bahan organik ini memerlukan oksigen terlarut dan mikroorganisme. Oksigen terlarut tsb karena dimanfaatkan untuk menguraikan bahan organik, maka kadar
oksigen terlarut akan berkurang. Apabila aliran air sungai deras, maka proses penguraian bahan organik yang terjadi semakin cepat, karena makin deras aliran air sungai, makin tinggi kadar oksigen terlarut dalam air. Proses yang terjadi adalah proses biokimia, yang mampu
mengurangi kadar bahan organik dalam air. Dengan demikian melalui proses pengenceran, proses pengendapan, proses oksidasi reduksi, proses biokimia dan proses penyaringan, kadar kontaminan dalam air sungai dapat menurun. Kondisi inilah yang disebut daya pembersihan diri sungai. Berikut ini digambarkan kondisi proses pemulihan diri air sungai yang diukur terhadap kandungan Oksigen Terlarut (OT) selama perjalanan air. Air sungai tersebut menerima limbah cair yang mengandung bahan organik yang diukur sebagai BOD5 (biochemical oxygen demand ).

C. Pemulihan Diri Air Sungai
Selain itu dalam badan air penerima terdapat organisme hidup laindalam air (misalkan, tanaman air, ikan) yang dapat berfungsi sebagai’pembersih’ limbah. Fungsi organisme tersebut adalah :
a. menyaring bahan pencemar
b. mengkonsumsi bahan pencemar
c. memangsa organisme pencemar dengan menyebarkan ikan
sapu-sapu
d. mengurangi bahan pencemar logam berat dengan menanam
eceng gondok yang dapat mengikat logam berat
e. menghilangkan gulma dengan menebar ikan grass carp. Gambar
di bawah ini memperlihatkan limbah yang dialirkan ke dalam
sungai dan dampaknya terhadap kehidupan air. Bila suatu saat
aliran limbah berhenti, maka air sungai dapat pulih kualitasnya,
dan tampak kehidupan air menjadi pulih juga. Perairan akan
berubah kualitasnya.

D. Sumber limbah cair dan karakteristiknya
Limbah cair adalah cairan yang dianggap tidak lagi bermanfaat bagi pengguna dan dibuang kembali ke lingkungan air. Secara umum ada beberapa kegiatan yang menjadi sumber limbah cair yaitu antara lain kegiatan penduduk di perkotaan/pedesaan (domestik), industri, pertanian, dan pertambangan.
• Limbah cair domestik terdiri dari air limbah yang berasal dari perumahan dan pusat perdagangan maupun perkantoran, hotel, rumah sakit, tempat-tempat umum,lalulintas. Limbah jenis ini sangat mempengaruhi tingkat kekeruhan, kadar bahan organik yang diukur terhadap BOD5 (biological oxygen demand), COD (chemical oxygen demand) dan kadar unsur N, P dalam system pasokan air.
• Limbah cair industri adalah limbah yang berasal dari industri. Sifatsifat air limbah industri relatif bervariasi tergantung dari bahan baku yang digunakan, pemakaian air dalam proses, dan bahan aditif yang digunakan selama proses produksi. Limbah jenis ini bukan saja mempengaruhi tingkat kekeruhan, BOD5, COD, pH, tetapi juga senyawa kimia baik yang organik maupun anorganik. Senyawa anorganik antara lain logam berat yang beracun dan
berbahaya bagi manusia.
• Limbah cair pertanian berasal dari buangan /sisa air irigasi yang disalurkan kembali ke saluran drainase atau meresap ke dalam tanah. Sifat-sifat air limbah pertanian ini bervariasi tergantung dari bahan pupuk, insektisida yang digunakan. Limbah ini akan mempengaruhi tingkat kekeruhan, BOD5, COD, pH, tetapi juga kadar unsur N, P, dan pestisida, insektisida.
• Limbah pertambangan berasal dari buangan pemrosesan yang terjadi di area pertambangan, misalnya tambang emas. Sifat-sifat air limbah pertambangan ini bervariasi, tergantung dari jenis pertambangan, proses yang digunakan di dalamnya, serta jumlah pemakaian air. Limbah ini akan mempengaruhi tingkat kekeruhan, BOD5, COD, pH, tetapi juga kadar kimia yang digunakan dalam proses penambangan. Karakteristik limbah cair dinyatakan dalam bentuk kualitas limbah cair dan jumlah aliran limbah cair yang dihasilkan. Kualitas limbah cair diukur terhadap kadar fisik, kimiawi dan biologis. Parameter yang diukur antara lain sebagai berikut:
a. Parameter fisik berupa padatan (partikel padat) yang ada dalam air ( padatan total, padatan tersuspensi dan padatan terlarut) ; warna ; bau dan temperatur.
b. Parameter kimia selain berupa kadar BOD5, COD dan TOC yang menggambarkan kadar bahan organik dalam limbah, juga senyawa yang terkait dengan amonia bebas, nitrogen organik, nitrit, nitrat, fosfor organik dan fosfor anorganik, sulfat, klorida, belerang, logam berat (Fe, Al, Mn, Mg dan Pb), dan gas (H2S, CO2, O2 dan CH4).
c. Parameter biologis juga merupakan hal penting, karena ada beribu-ribu bakteri per milimeter dalam air limbah yang belum diolah. Jenis bakteri yang diukur adalah bakteri golongan Coli.Jumlah limbah cair yang dihasilkan diukur dalam satuan liter per detik atau m3 per hari.
• Limbah domestik yang berasal dari permukiman diukur berdasarkan pemakaian airnya. Misalkan pemakaian air di rumah tangga 120 l/orang/ hari, maka limbah yang dihasilkan adalah sebesar 60 – 80% dari pemakaiannya yaitu 80 – 95 liter/orang/hari. Limbah dari permukiman ini berasal dari sisa pemakaian air yang digunakan untuk keperluan mandi, cuci, membersihkan rumah, toilet, mencuci mobil, dll, tergantung luas dan fasilitas yang dimiliki. Limbah dari perkantoran diperkirakan sekitar 40 liter/orang/hari,karena pemakaian air hanya digunakan untuk keperluan membersihkan ruangan kantor dan toilet.
• Limbah industri jumlah aliran limbahnya tergantung pemakaian air
oleh industri tersebut dan diperkirakan sekitar 50 m3/ha/hari.

E. Menghitung jumlah aliran limbah yang dihasilkan di suatu
kawasan permukiman
Misalkan suatu kawasan permukiman terdiri dari 500 kepala keluarga, dan setiap kepala keluarga rata-rata terdiri dari 5 orang. Kondisi perekonomian kelas menengah. Apabila kawasan ini memiliki jaringan limbah cair, maka jumlah limbah cair yang tertampung adalah 500 kk x 5 orang x 100 l/orang/hari = 250.000 l/hari atau 25 m3/hari.
F. Dampak pencemaran air terhadap lingkungan
Dampak pencemaran air berupa gangguan terhadap ekosistemperairan, fungsi badan air dan kesehatan manusia.
• Dampak pencemaran air terhadap kesehatan manusia Limbahcair seperti halnya limbah padat dapat menimbulkan dampakterhadap kesehatan manusia. Pengaruh langsung terhadap
kesehatan, umpamanya, tergantung sekali pada kualitas air mengingat air yang terkontaminasi dalam hal ini berfungsi sebagai media penyalur ataupun penyebar penyakit. Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam, antara lain :
o Air sebagai media untuk hidup mikroba patogen;
o Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit;
o Jumlah air bersih yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat membersihkan dirinya, atau;
o Air sebagai media untuk hidup vector penyebar penyakit.
Dalam konteks Indonesia, ada beberapa penyakit yang masuk dalam kategori water-borne diseases, penyakit-penyakit yang dibawa oleh air, yang masih banyak dijumpai di berbagai daerah. Penyakit-penyakit ini hanya dapat menyebar apabila mikroba penyebabnya dapat masuk ke dalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Penyebab Penyakit
 Virus
Hepatitis A (penyakit kuning)
Polio (kelumpuhan pada anak)
Diare
Trachoma (Mata)
 Bakteri
Tifes
Paratifes
Kholera
Disentri
 Protozoa
Disentri amuba
 Cacing
Ascariasis (cacing bulat)
Ankilostomiasis (cacing tambang)

Penyebab Penyakit
 Logam berat
Air raksa Penyakit minamata
Cadminum Penyakit itai-itai
Arsenicum Kanker kulit
Timah hitam Kecerdasan (IQ) berkurang
 Insektisida
DDT Cangkang telur burung menipis kecil sebelum menetas
Rganofosfat Keracunan syaraf
 Pupuk
Urea Penyuburan tanaman air -> permukaan air tertutup -> oksigen tidak dapat larut, ikan mati.
Dampak yang terjadi secara langsung adalah adanya apabila terdapat kandungan logam berat pada air sungai tercemar yang digunakan manusia dalam kehidupannya. Sebagai contoh air raksa yang dibuang ke perairan yang dikonsumsi akan mengganggu kesehatan manusia melalui makanan dan minuman karena menghambat kerja enzim dan menyebabkan kerusakan sel.
Keracunan akibat air raksa dapat mengakibatkan cacat seumur hidup atau bahkan kematian.

• Dampaknya terhadap Fungsi Sungai
Adanya air limbah yang masuk ke dalam saluran drainase atausungai akan mencemari air sungai tersebut. Pencemaran air ini mengakibatkan air sungai tidak lagi berfungsi sesuai
peruntukkannya. Akibat dari pencemaran air adalah :
- air tidak dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya, dan jika dimanfaatkan maka diperlukan lagi pengolahan khusus yang menyebabkan peningkatan biaya pengoperasian dan pemeliharaan sungai.
- air menjadi penyebab timbulnya penyakit.

• Dampak Pencemaran Air Terhadap Rantai Makanan
Rantai makanan dalam air akan terganggu akibat adanya pencemaran air. Dengan banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air, menyebabkan menurunnya kadar oksigen di dalam air
tersebut. Beberapa jenis ikan maupun tumbuh2an yang ada dalam air akan mati karena kekurangan oksigen. Demikian pula apabila zat pencemar tersebut beracun dan berbahaya, maupun terjadinya kenaikan suhu air, beberapa jenis biota akan mati, sehingga keseimbangan rantai makanan terganggu. Disisi lain akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses pembersihan diri secara alamiah yang seharusnya dapat terjadi menjadi terhambat, atau dengan kata lain daya pembersihan diri sungai sangat kecil.
G. Pengelolaan Limbah Cair Untuk Pengendalian Pencemaran Air
Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan da penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untukmenjamin agar sesuai dengan baku mutu air. Tujuan pengelolaan limbah cair adalah untuk mengendalikan agar tidak terjadi pencemaran air atau
menghasilkan zero pollution ( tidak ada polutan dalam air). Oleh karenanya maka sasaran yang ingin dicapai adalah agar mengusahakan agar jumlah limbah yang dihasilkan sekecil mungkin dengan kadar kontaminan sekecil mungkin. Pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan pencemaran air mencakup pendekatan non teknis dan pendekatan teknis. Pendekatan non teknis yang dimaksud adalah penerbitan peraturan sekaligus sosialiasi peraturan yang digunakan sebagai landasan hukum bagi pengelola badan air maupun penghasil limbah dalam mengendalikan limbah maupun mengelola limbahnya. Melakukan penyuluhan pada masyarakat, menegakkan hokum merupakan kelengkapan dari penerbitan peraturan tersebut.
H. Peraturan pengelolaan limbah cair dan pencemaran air
Hal yang diatur antara lain adalah mengenai sistem penanganan limbah, baku mutu efluen limbah, baku mutu badan air penerima, monitoring dan evaluasi, pelaporan, dan sangsi, serta organisasi pengelola Peraturan yang digunakan sebagai landasan hokum bagi pengelola dalam mengendalikan pencemaran air, terutama yang menyangkut baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah persyaratan batas minimal dari kualitas air sungai/badan air dan kualitas efluen limbah yang diijinkan sebelum dibuang ke badan air penerima. Fungsi baku mutu lingkungan ini adalah untuk berbagai keperluan yaitu :
Bagi pengelola untuk mengetahui apakah badan air yang ada telah tercemar ataukah belum. Apabila ternyata kualitas air badan air melebihi ambang batas baku mutunya, dikatakan bahwa telah tercemar. Apabila limbah efluen (hasil olahan limbah) yang di buang ke badan air penerima melebihi ambang batas baku mutu efluen limbah maka industri atau Pemilik Instalasi Pengolahan Limbah Cair tersebut harus memperbaikinya.

• Bagi perencana dan pengelola Instalasi Pengolahan Limbah
Cair, baku mutu lingkungan digunakan sebagai data untuk merancang Instalasi Pengolahan Limbah Cair maupun untuk memonitor apakah Instalasinya telah berfungsi dengan baik. Ada dua jenis baku mutu lingkungan yaitu effluent standard dan stream standard.. Effluent standard merupakan kadar maksimum limbah yang diperbolehkan untuk dibuang ke lingkungan. Stream standard merupakan batas kadar untuk sumberdaya tertentu, seperti sungai, waduk dan danau. Kadar yang diterapkan ini didasarkan pada kemampuan sumberdaya beserta sifat peruntukannya. Misalnya batas kadar unsur kimia dalam badan air untuk air baku air minum, air irigasi, dll. Pendekatan teknis berupa penyediaan / pengadaan sarana dan prasarana penanganan limbah, serta monitoring dan evaluasi.

I. Bagaimanakah pengelolaan limbah cair di suatu perkotaan ?
• Sistem penanganan limbah domestik
Limbah yang berasal dari rumah tangga, bangunan kantor, bangunan sekolah, maupun bangunan lainnya pada prinsipnya di lokalisasi agar tidak menyebar kemana-mana. Limbah cair tersebut dimasukkan ke dalam suatu bak kedap air. Bak ini berfungsi juga sebagai bak pengolahan limbah cair. Kita mengenal dua cara penanganan limbah domestik di lingkungan perkotaan menurut lokasi penempatan bak pengolahan limbah cair.
− Apabila lokasi pengolahan limbah cair berada di tempat (dekat dengan bangunan rumah/gedung), disebut sebagai penanganan sistem setempat (on site system). Penanganan sistem ini disebut juga sebagai sistem individual.
− Apabila lokasi bak pengolahan limbah cair berada jauh dari bangunan rumah/gedung dan limbah berasal dari banyak rumah/gedung, dikumpulkan dan disalurkan ke bak pengolahan limbah cair, disebut sebagai penanganan limbah sistem terpusat (off site system), dan disebut juga sebagai sistem komunal.

Limbah dari rumah/gedung dimasukkan ke tangki septik. Tangki septik adalah salah satu jenis bak pengolahan limbah cair. Limbah cair akan berada selama satu atau dua hari Beberapa Rumah dan kemudian mengalir ke bak resapan. Efluen limbah meresap ke dalam lapisan tanah melalui bak resapan dan akan bergabung dengan air tanah. Partikel padat yang ada di dalam tangki septik mengendap dan makin lama makin bertambah dan memenuhi tangki septik. Oleh karena itu setiap 2-3 tahun sekali tangki septik harus dikuras dan lumpur tinja kemudian diangkut dengan truk tinja menuju ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Selanjutnya hasil olahan IPLT berupa lumpur yang sudah stabil. Lumpur tersebut dikeringkan dan dapat digunakan sebagai kompos. Uraian rinci mengenai tangki septik disajikan dalam paragraf selanjutnya. Penanganan limbah dengan system terpusat selalu mempunyai jaringan air kotor yang sering disebut jaringan riool kota atau jaringan air kotor. Sistem penanganan limbah cair dengan sistem ini dapat dilihat dalam gambar 2-11. Kota yang mempunyai jaringan riool kota antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan. Jumlah rumah yang dilayani oleh sistem jaringan ini tidaklah sedikit. Dalam operasi dan
pemeliharaannya, sistem penanganan limbah terpusat memerlukan unit atau badan pengelola agar jaringan riool ini tetap berfungsi, demikian pula Instalasi Pengolahan Limbah Cairnya.

• Sistem penanganan limbah industri
Penanganan limbah industri sistem setempat Sekitar tahun 1970 limbah industri ditangani dengan membuat instalasi pengolahan limbah industri di tempat (end of pipe).
Model ini disebut sebagai penanganan limbah industri dengan sistem setempat. Pengolahan terhadap limbah industri ini memerlukan biaya yang tidak kecil, sehingga berpengaruh
terhadap harga jual barang produksinya. Kemudian para industriawan melakukan berbagai upaya, agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin dan dengan memanfaatkan kembali
limbah yang ada. Cara ini disebut dengan istilah ‘produksi bersih’.

 Penanganan limbah industri sistem terpusat
Ada juga industri yang dibangun di suatu kawasan yang disebut kawasan industri. Sistem penanganan limbah yang dikembangkan adalah sistem penanganan limbah terpusat, dengan dibuatkan jaringan air kotor dan berakhir di instalasi pengolahan limbah industri. Jenis
industri yang dibangun di kawasan industri ini bervariasi, sehingga kualitas limbah yang dihasilkan juga bervariasi. Apabila disatukan (dicampur) limbahnya, akan menyulitkan dalam proses pengolahan serta meningkatkan biaya investasi dan biaya operasionalnya, yang
mempengaruhi tarif pengolahan limbah. Bagi industri yang limbahnya memang sulit diolah akan menguntungkan, sedangkan industri yang tidak sulit diolahnya akan dirugikan. Oleh karenanya masing-masing industri melakukan pengolahan pendahuluan, hingga efluen limbah sebelum masuk ke jaringan air kotor telah memenuhi syarat tertentu. Di bawah ini disajikan bagan sistem penanganan limbah di suatu kawasan industri.

J. Produksi Bersih dan Pencegahan Pencemaran
Produksi bersih didefinisikan sebagai strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, proaktif, terpadu dan diterapkan secara kontinyu pada setiap kegiatan mulai dari hulu sampai dengan ke hilir yang terkait dengan proses produksi terhadap suatu produk dan atau jasa. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam,
mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah mulai dari sumbernya sehingga dapat memperkecil resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan. Pencegahan pencemaran adalah upaya dalam mencapai
produksi bersih. Dalam konsep ini limbah didefinisikan sebagai sumberdaya yang tidak pada tempatnya. Konsep pencegahan pencemaran terutama ditujukan pada limbah cair industri, sedangkan Industri A Industri B Industri C Industri D Industri E IPAL Industri Pengolahan Pendahuluan dalam limbah cair domestik kegiatan minimisasi limbah terutama dalam hal hemat pemakaian air. Pencegahan pencemaran didefinisikan sebagai upaya agar dalam penggunaan material, proses atau praktek ditujukan untuk mengurangi atau mengeliminasi polutan dalam limbah sejak dari sumbernya. Hal ini mencakup pengurangan penggunaan bahan berbahaya, energi, air atau sumberdaya dan praktek yang melindungi sumberdaya melalui konservasi atau pemanfaatan yang lebih efisien. EPA (Environmental Protection Agencies yaitu institusi yang bertanggung jawab dalam perlindungan lingkungan)

K. Hirarkhi pencegahan pencemaran
Hirarkhi dalam pencegahan pencemaran digambarkan dalam piramida terbalik di bawah ini. Dalam gambar 2-8 tersebut menunjukkan bahwa:
(1) Langkah pertama dalam mencegah pencemaran adalah dengan mengurangi limbah sejak dari sumbernya, baik dengan cara mengganti bahan baku proses produksi dalam industri maupun bahan proses yang menggunakan air sesedikit mungkin.
(2) Jika ini telah diupayakan, berikutnya adalah mempelajari karakteristik limbah untuk di cari manfaat sehingga dapat difungsikan sebagai bahan baku yang perlu di daur ulang dan hasilnya bisa dimanfaatkan lagi.
(3) Selanjutnya apabila upaya ini telah dilakukan, maka limbah yang dihasilkan ‘diolah’ agar dapat dibuang dengan aman ke lingkungan.
(4) Terakhir adalah limbah dibuang langsung dengan menggunakan metoda secured landfill apabila limbah yang dibuang mengandung B3.

Arti dari bentuk piramida terbalik di atas adalah bahwa volume kegiatan pengurangan limbah dari sumbernya diusahakan sebanyak mungkin, baru kemudian dilakukan usaha Pengurangan dari sumber Daur Ulang dan Pemanfaatan Kembali Mengolah limbah Membuang limbah mendaur ulang dan memanfaatkan kembali, sedangkan usaha mengolah limbah dan hasil olahannya kemudian di buang ke lingkungan adalah pilihan terakhir mengingat tingkat resiko terhadap masyarakat lebih besar dari usaha sebelumnya. Oleh karenanya volume hasil olahan limbah yang akan dibuang diusahakan sekecil mungkin, karena selain resiko, juga biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ini besar. Bentuk kegiatan menbuang olahan limbah tersebut antara lain dengan menguburkannya. Tempat ‘mengubur’ limbah ini tidak dapat lagi digunakan untuk keperluan kegiatan manusia lagi karena resikonya terhadap kesehatan manusia sangat besar. Limbah yang dikubur ini terutama
adalah limbah yang tergolong dalam daftar B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).

L. Limbah Industri
Praktek industri dalam mengatasi masalah limbahnya, di masa lalu adalah bahwa limbah industri langsung di buang ke dalam air, tanah maupun udara (1), Praktek cara ini kemudian diperbaiki karena setelah jumlah industri meningkat dampak pencemaran lingkungan akibat limbah industri terhadap kehidupan manusia mulai dirasakan dan dibuatlah bangunan pengolahan limbah dan olahan limbahlah yang di buang ke alam (2). Praktek cara (2) ini mulai dirasakan dampaknya pada industri dan konsumen karena konsekwensi biaya yang ditimbulkannya, menyebabkan harga jual barang produksi meningkat dan kemudian muncul model praktek (3). Praktek model (3) ini menggunakan prinsip pencegahan pencemaran,
artinya langkah-langkah yang digunakan menerapkan prinsip hirarkhi pencegahan pencemaran yang telah diuraikan sebelumnya. Parktek model (4) adakah bentuk ideal dari penanganan limbah industri, yaitu diusahakan tidak ada limbah lagi, dan yang ada adalah bahan baku yang perlu diolah menjadi barang jadi (produk).
M. Manfaat produksi bersih
Beberapa keuntungan dalam penerapan/pelaksanaan Produksi Bersih antara lain adalah:
• Penggunaan sumberdaya alam lebih efisien
• Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar
• Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media ke media lainnya
• Terhindar dari biaya pemulihan lingkungan.
• Produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional
• Mengurangi risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan
• Mendorong dikembangkannya teknologi pengurangan limbah pada sumbernya dan produk akrab lingkungan.
http://pjj-vedca.depdiknas.go.id/lingk_hidup3/materi/LIMB%205.pdf

1 komentar:

  1. artikel nya sangat membantu, kebutulan kami juga membahas mengenai pengolahan air limbah atau Ipal Rumah Sakit, dan kami merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsultan ipal, hubungi kami disini

    BalasHapus